
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron : 190-191)
Maha Suci Allah SWT atas semua kehendak-Nya. Keteraturan yang Dia ciptakan untuk kebaikan dan kebahagiaan makhluk-Nya sungguh tanpa cacat. Atmosfer yang berlapis, matahari yang bersinar dengan kesetiaannya, udara yang berhembus dengan semilirnya, rembulan yang tetap hadir di kegelapan malam, dan semua keajaiban regulasi dunia. Sungguh indah.
Lewat ayat pengantar yang dituliskan di atas, maka ada suatu pernyataan yang menjadi landasan logika hikmah kita di dalam mengidentifikasi semua keadaan ataupun kejadian. Bahwa apa yang Allah SWT ciptakan pasti jauh dari kesia-siaan. Ada manfaat, hikmah, tujuan, dan maksud Allah SWT di dalam setiap penciptaan. Tidak ada satupun yang hadir di dunia ini kemudian bernilai sia-sia. Termasuk air - yang di dalam bahasa kehidupan alam disimbolkan dengan hujan.
Air menjadi alat yang sangat vital di dalam kehidupan kita. Baik langsung maupun tidak. Namun, pada saat tertentu “nasib”-nya tidak terlalu baik. Misalnya, dalam musim penghujan. Air yang turun sebagai berkah kenikmatan dari Allah SWT justru disambut dengan cacian, hinaan, dan sesekali menjadi objek kekesalan.Banyak orang justru menggurutu, kesal, marah, sampai mengumpat jika hujan sampai mengganggu aktivitasnya. Sebagai akibatnya, banyak orang sering memiliki harapan agar hujan berhenti sesuai keinginannya.
Padahal hujan tidak turun dengan iseng. Tidak hadir tanpa maksud. Tidak datang karena siklus alam saja. Tidak turun karena keberatan awan mendung untuk menampung uap air lautan. Setidaknya Al Quran mencatat beberapa maksud Allah SWT di dalam proses terjadinya hujan. Simaklah firman-Nya pada surat Al Anfal di ayat ke 11 berikut ini:
"(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaithon dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu)"
Maka, dari ayat tersebut setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi hikmah turunnya hujan bagi orang-orang beriman.
Pertama, hujan hadir untuk mensucikan manusia. Sebagaimana kita sering menggunakan media air di dalam ritual thaharah, Allah SWT menurunkan hujan secara umum untuk membersihkan jasad dan jiwa manusia. Memberikan kesuburan bagi tetumbuhan, sumber air bagi sumur-sumur manusia, meringankan suhu bumi yang semakin tinggi, dan manfaat lain yang masih banyak untuk diambil hikmahnya.
Kedua, Allah SWT menghadirkan hujan untuk menghilangkan gangguan-gangguan syaithon di dalam kehidupan manusia. Sifat-sifat syaithoni yang berasal dari iblis. Dan iblis berasal dari unsur api. Dipadamkan dengan sejuknya air hujan. Dirindangkan dengan deburan air yang hadir membasahi tanah planet manusia. Sehingga hadir kembali nuansa keindahan di dalam alam kehidupan manusia. Ketiga, hujan Allah cetak untuk memberi kekuatan terhadap hati orang-orang beriman. Allah SWT ingin menegaskan (kepada orang-orang beriman) bahwa Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang terjadi dan hadir di dunia ini. Segala kenikmatan, rizqi, kebaikan, bahkan kemenangan hanya bisa hadir ketika Allah SWT merestuinya untuk hadir. Bukan karena usaha manusia untuk merekayasanya.
Dan yang terakhir, lewat hadirnya hujan, Allah SWT ingin meneguhkan hati para mu’minin. Setelah meyakini bahwa jalan Allah adalah jalan yang benar, orang-orang beriman diberikan suatu keyakinan dan keteguhan untuk terus melangkah di dalam jalur keimanan dan rasa berserah diri secara integral terhadap Allah SWT dan segala keputusan-Nya. Hingga keteguhan itu mampu (dengan izin Allah SWT) untuk melahirkan ketaqwaan dan suatu sikap yang dikenal sebagai furqaan. Yaitu kemampuan membedakan antara kebenaran Ilahiah dengan keburukan yang bersumber dari bisikan syaithon meski bertabur dengan gemerlap dunia. Wallahua’lam.
Ahmad Akbar

Ketergantungan kita terhadap ideologi supranatural sepertinya sudah boleh dikatakan sebagai suatu fitrah. Betapa tidak, dunia dengan gempuran inovasi teknologi di satu sisi ternyata tetap tidak mempengaruhi laju pertumbuhan filsafat dan metafisika di dunia hingga hari ini. Konsekuensinya, lahirlah banyak varian di dalam dunia pemikiran. Beberapa menjadi “agama” baru bagi masyarakat, beberapa yang lain hilang begitu saja karena tidak mampu menjawab tantangan.
Termasuk ide tentang siapa Tuhan bagi seorang individu atau bagi sekelompok manusia. Sepertinya hal ini bisa dikategorikan menjadi abstrak. Bagaimana tidak, sifat-sifat yang harusnya manusia berikan dalam upaya apresiasi atas keluarbiasaan dan eksistensi Tuhan justru diberikan pada hal yang tidak menunjukkan kedua hal itu. Penghambaan, ketaatan, loyalitas, bahkan totalitas kehidupan seorang manusia bisa begitu mudah disodorkan pada suatu nilai, partai, ideologi, paham, atau tuhan-tuhan semu lainnya.
Cukup penting untuk kita mengevaluasi di dalam wilayah jiwa dan ideologi kita tentang siapa Tuhan kita yang sebenarnya. Karenanya juga sangat penting untuk mengetahui cara mengenal Tuhan. Ada pepatah arab yang menyatakan bahwa “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.” Dengan kata lain untuk mengetahui Tuhan kita yang sebenarnya, cukuplah kita bertanya pada diri sendiri.
Sekurang-kurangnya ada tiga poin yang bisa kita jadikan parameter atas kebertuhanan kita. Pertama, jika dengannya (atau dengan-Nya) kita bisa meraih ketenangan dalam hidup. Hal ini bisa kita sepakati karena sesuatu yang kita anggap Tuhan memiliki indikator bahwa dialah penjamin kehidupan yang sesungguhnya. Karenanya kita merasa tenang. Tidak khawatir, resah, gundah, apalagi gelisah dalam menghadapi kehidupan di sepetak planet mengapung ini.
Kedua, jika Tuhan kita jadikan tempat untuk berlindung dari segala hal. Kekuasaannya yang meliputi semua kehidupan membuat kita merasa aman dari segala hal yang kita anggap membahayakan. Kemahacerdasannya seakan membuat jaminan terhadap hati kita bahwa kita akan selalu baik-baik saja. Kita akan tetap aman jika kita berlindung padanya. Sebaliknya, kita tidak pernah aman ketika kita tidak berlindung padanya.
Fakta yang menjadi sintesi selalu melahirkan romantika sebagai bumbu pelengkapnya. Kita semua menganggap sesuatu itu Tuhan jika kita termasuk orang-orang yang mencintainya. Hanya saja, secara empiris, definisi mencintai akan berbeda untuk setiap orang. Sehingga mungkin yang lebih mudah untuk dijadikan parameter adalah bagaimana dominasi rasa cinta yang lebih kita kenal dengan istilah rindu. Ada suatu ikatan hati yang bisa dianggap atau dikatakan abstrak tentang kerinduan. Namun, ciri umum tentang rindu tentu saja bersifat global disepakati oleh manusia. Bahwa, ia adalah rasa kehangatan dan kegembiraan jika mendapati komunikasi dengan sesuatu yang dirindukan.
Setidaknya, dari beberapa variabel di atas, tentu sekarang kita bisa mengevaluasi dan menanyakan dengan sangat jujur, tentang siapa yang kita anggap sebagai Tuhan selama ini. Tentu dia bisa alat yang melambangkan ide kebendaan, atau mungkin suatu alam pemikiran yang kita anggap bisa memenuhi semua varian di atas, atau bahkan kita mendefinisikannya secara bebas (atau terlalu bebas) ide tentang siapa Tuhan yang sesungguhnya. Tapi, mungkin yang jauh lebih penting ditanyakan sekarang, dengan fakta, realita, dan pengaruh akses informasi, adalah “benarkah anda bertuhan pada Tuhan anda sekarang ini ?”
Ahmad Akbar
Bogor, 5 Januari 2012

Kemiskinan yang menjadi kebudayaan adalah pola pikir manusia. Dasar dari keinginan manusia yang tidak mampu memenuhi keinginannya merupakan bentuk baru dari pengerian kemiskinan. Sejak awal kemiskinana adalah ketidakmampuan menusia memenuhi kebutuhan, akan tetapi berangsur hal tersebut menjadi budaya yang terintervensi oleh nafsu atau keinginan yang melampaui batas tiap pribadi manusia. Dari hal tersebut maka tersimpulkanlah pengertian bahwa saat ini kemiskinan adalah keinginan yang tidak mampu terpenuhi.
Bangsa indonesia jika kita kembali menengok kebelakang memiliki catatan kebangkitan yang fluktuatif. Awal mula sejarah baru berkuasanya kerajaan majapahit; kemudian tertindas oleh imperialisme belanda, jepang, inggris, yang sebelumnya dimotori oleh kaum portugis. Bangkit kembali dengan perlawanan para pahlawan dan gerakan-gerakan rakyat. Kembali sejarah terulang dengan keinginan belanda menduduki tanah ini. Maka dengan ketegasan bangsa kita, kita kembali terbebas. Selepas perjuangan itu munculah pengkhianatan-pengkhianatan yang menjadi bibit-biit kehancuran sampai saat ini. Dan bangsa kita masih belum mampu berdiri tegak menghadapi hal tersebut. Ketidakmampuan ini menjadi dasar miskinnya bangsa kita. Hukum alampun terjadi, “yang kuat akan hidup, yang lemah akan mati”. Maka begitu banyak orang-orang yang mati. Mati yang memang mati dalam keadan terhinaan oleh bangsa sendiri. Mereka yang memiliki kekuatan menjadikan kekuasaannya sebagai “brankas” kehidupan mereka. Hasilnya termiskinkanlah rakyat kita.
Disaat bangsa ini memulai sebuah bentuk pengembalian kesadaran bangsa untuk bangkit. Ternyata budaya baru datang mengkerdilkan bangsa kita dengan kata “modernisasi” yang dibungkus kulit “westernisasi”, dan kembali menumbuhkan semangat-semangat imperialisme gaya baru yang biasa disebut dengan neoliberalisme. Bukan sebuh sudut pandang politik yang akan pribadi ambil, namun sebuah sudut pandang manusia yang memanusiakan. Ketiga hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang terlihat wajar dimata rakyat keci sekalipun. Budaya modernisasi dan westernisasi menjadi gengsi untuk mempertahankan eksistensi di dunia. Dalam sebuah buku yang berjudul the clash of civilization oleh Hutington, bahwa antara modernisasi dan westernisasi adalah hal yang terpisahkan. Hal ini menandakan penyerangan kebudayaan telah berasal dari segala arah. Modernisasi yang menjadikan segalanya adalah kebutuhan kita di era global dan westernisasi yang mengajarkan bahwa kiblat peradaban maju manusia kini adalah barat. Maka pola-pola kesederhanaan manusia yang telah terbangun dalam bangsa ita hilang terlunturan. Sehingga pengertian-pengertian baru itu muncul, tentang kemiskinan yang menjadi dasar ketidakpuasan keinginan, tentang alasan seseorang untuk malas berusaha, tentang tngkat gengsi manusia, tentang perbedaan status sosial manusia yang membuat bangsa ini terpecah tak bersatu untuk bangkit. Saat ini sudah tidak adalagi yang saling percaya maka marilah bentuk kepercayaan itu..
-Iqbal putera mahari-
“Hari ini sedang kuliah kesuburan tanah...”