Manusia Terbaik Se-Dunia


Saya terus berpikir, siapa manusia Terbaik itu? Kemudian Rasulku tercinta menjawab pertanyaanku dengan kalimat cintanya: ” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari). Sayapun bertanya, Bermanfaat itu seperti apa?mungkin ini terlihat pertanyaan bodoh, tapi sejauh pengetahuan saya banyak manusia yang tidak tepat dalam memahami makna manfaat ini, celakanya ini berimplikasi langsung terhadap makna Manusia Terbaik versi mereka. Fitrah manusia tentu menginginkan dirinya menjadi Manusia Terbaik diantara golongannya, atau kata anis matta: ingin menjadi Gelombang dalam lautan Sejarah kemanusiaan. Ambisi untuk menjadi yang terbaik telah berubah menjadi energi yang menggerakkan kemudian mengeksploitasi semua potensi seseorang untuk mewujudkan ambisi fitrah kemanusiaa itu. Maka kemudian dunia menyajikan kita pertandingan-pertandingan dengan segala macam bentuknya, dari level sekolah sampai level dunia. Dari Olahraga, seni, Iptek, ekonomi, politik. Termasuk didalamnya beraneka ragam AWARD yang diperebutkan manusia. Lalu kita tiba pada satu konklusi, bahwa dunia dipenuhi dengan aktifitas kompetisi dan perlombaan menjadi yang terbaik, baik itu manusia, hewan, maupun tumbuhan. Kesalahan dalam memaknai makna manfaat juga telah menanggalkan adab kompetisi sekaligus jenis kompetisi yang digelar dalam panggung sejarah kemanusiaan.


Lalu saya tergoda untuk berpikir, ketika seorang ibu butuh makanan, bagaimana kita bisa bermanfaat buat ibu tersebut? Tentu kita akan menjawab bahwa kita dikatakan bermanfaat untuk ibu tersebut saat kita memberi makanan kepada ibu tersebut. Ketika ibu tersebut kehausan, maka kita dikatakan bermanfaat saat kita memberikan minuman yang menghilangkan kehausan ibu tersebut. Bukan kah seperti itu? Bagaimana dengan seperti ini: kita memberi makanan kepada ibu tersebut ketika ia kehausan atau kita memberikan minuman kepada ibu tersebut saat ia kelaparan, apakah kita bias dikatakan bermanfaat? Sepertinya kita bisa menjawabnya sendiri. Akhirnya sederhana betul makan bermanfat itu.”Ketepatan”, mungkin ini kata yang bisa mewakili makna bermanfaat. Ketepatan antara pemberian dan kebutuhan. Ketika umat sedang butuh rumah, kita memberikan rumah, ketika umat butuh pakaian, kita memberikan pakaian. Ketepatan memerlukan kemampuan kita untuk memahami kebutuhan umat dengan sangat baik, kemudian mengeksploitasi semua potensi dan energi kita untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Maka bermanfaat bias dijelaskan pula dengan menyelesaiakan permasalahan umat.



Pemahaman terhadap makna Bermanfaat menjadikan kita tidak melakukan pemborosan kehidupan untuk mendapatkan cita-cita kita menjadi Manusia Terbaik di jagad raya ini. Karena pemahaman itu akan menjawab pertayaan kompetisi-kompetisi apa yang akan kita ikuti, kemudian kitapun akan menemukan jenis kompetisi yang paling efektif dan efesien (karena hidup hanya 1 kali dan sangat singkat) yang mampu menempatkan kita menjadi Manusia Terbaik di hadapan AllahSWT dan Rasulullah SAW. Betapa banyak manusia-manusia Zaman ini yang menghabiskan kehidupannya untuk mengejar mahkota kemenangan kompetisi-kompetisi yang tidak ada manfaatnya dalam konteks keumatan, missal Indonesian Idol, Idola Cilik, dan kompetisi-kompetisi yang sejenis. Kalaupun tidak terjebak dalam kompetisi yang tidak bermanfaat, betapa banyak manusia yang menghabiskan kehidupannya dalam pergumulan keilmuan yang terlepas dari jiwa zaman mereka. Melakukan serangkaian penelitian dan pekerjaan yang tidak nyambung dengan kebutuhan umat Karena bukan karena kamu pintar maka kamu akan menjadi yang terbaik. Betapa banyak manusia-manusia dengan nilai-nilai akademis terbaik,dan title terbaik yang tidak berdaya menghadapi problematika umat zaman ini? Sepertinya yang salah bukan pintarnya, tapi mahkota pintar itu yang diberikan kepada orang yang salah. Betapa banyak penelitian, karya tulis, skripsi, tesis, desertasi tentang kemiskinan yang tidak bias menyelesaiakn kemiskinan di bumi ini. Betapa banyak sarjana-sarjana ekonomi yang menambah daftar pengangguran di negerinya? yang lebih menyedihkan adalah perlombaan menjadi yang terbaik dihadapan musuh-musuh ISLAM melalui perlombaan-perlombaan dan penghargaan-penghargaan yang dibuat oleh mereka melalui standar yang ditetapkan mereka. melalui standar inilah mereka mengarahkan fitrah kemanusiaan kita untuk menang menjadi sarana menggantikan standar ISLAM menjadi Standar mereka. melalui perlombaan-perlombaan jugalah musuh-musuh ISLAM mengalihkan kita dari usaha penyelesaain problematika umat. Betapa banyak perlombaan musik telah menyedot perhatian anak muda Islam dari kesibukan mereka menyelesaikan permasalahan umat. Begitu juga betapa banyak lomba-lomba riset dan penelitian yang mengalihkan perhatian putra-putri terbaik ISLAM pada usaha riset dan penelitian yang benar-benar dibutuhkan umat ini. Menyedihkan betul nasib umat ini, saat ibu pertiwi sedang menjerit kelaparan, putra-putri terbaiknya justru lebih sibuk dengan riset robot dan lingkungannya. atau kalaupun riset tentng pangan, risetnya pun lebih untuk memenuhi kebutuhan industri pangan daripada kebutuhan pangan rakyat.



Lalu, saya pun teringat mahasiswa-mahasiswi yang sedang rapat di sebuah secretariat pergerakan. Mereka sedang sibuk berdiskusi tentang masalah kemiskinan di kabupaten bogor dan cara menyelesaikannya. Sayapun mengamati dari kejauhan dengan mendengarkan sungguh-sungguh betapa mereka merasakan perasaan umat yang menjadi tanggung jawab mereka di bogor menjerit tidak berdaya atas kondisi kemiskinan yang telah melumpuhkan harapan mereka. Mahasiswa –mahasiswi tersebut kemudian merencanakan sejumlah agenda untuk menyelesaiakan masalah umat bogor tersebut.Dua hari setelah itu mereka mendatangi bupati bogor untuk menyampaikan perasaan rakyat kabupaten bogor. Untuk itu mereka harus menempuh perjalanan 2 jam dalam siang yang terik dengan segenap tenaga dan dana mereka yang terbatas. Tidak cukup itu, merekapun kemudian menyelenggarakan serangkaain kampaye Bogor merdeka dari kemiskinan dan memobilisasi semua komponen untuk terlibat di dalamnya. Di tengah kesibukan menyelesaiakan kemiskinan Kabupaten bogor, mereka pun ternyata sedang berusaha mendirikan yayasan untuk melindungi anak-anak jalanan di kota bogor. Menggalang dana di sana-sini, membujuk manusia yang lain untuk berpartisipasi. Tidak cukup itu, merekapun menggelar protes keras saat saudara mereka (muslim) dibantai di Thailand selatan, sebuah Negara yang jauh dari tempat mereka berada. Uniknya, mereka melakukan semua itu dalam kondisi mereka yang sangat terbatas, ditengah kesibukan mereka menyelesaiakan kuliah-kuliah mereka, tanpa mereka pernah berpikir bahwa orang-orang yang sedang mereka perjuangkan tidak pernah tau apa yang mahasiswa-mahasiswi itu lakukan. Saya pun beruntung menjadi bagian dari mereka. Mereka benar-benar telah menjadi embun dalam peradaban zaman yang kering ini. Mereka telah memberikan kepada kita sebuah alasan untuk Tersenyum menatap masa depan Indonesia.Merekalah salah satu manusia terbaik Zaman ini. Senangnya umat ini memiliki mereka.



Akhirnya, Bermanfaat harus dipahami dalam kerangka keumatan, karena di sanalah muara semua karya-karya besar kepahlawanan kita. Demikianlah Putra-putri Terbaik Islam menjemput Takdir Sejarah Kepahlawanan mereka. Umati, umati, umati. Dengan memperhtikan umatlah kita bisa memahami kebutuhan mereka, dengan memahami kebutuhan merekalah kita mampu menemukan ketepatan dalam pemberian kita dan menempatkan kita menjadi manusia yang bermanfaat.Bahkan sang utusan terakhir pernah tidak makan selama tiga hari sampai jibril menawarkan kekayaan, hamparan emas sepanjang 2 kota impian tetapi tak bisa, karena itu tak akan membuatnya bahagia yang ia pikirkan hanyalah umati, umati, umati! Dan Rasulku tercintapun menutup sejarah kehidupannya di dunia dengan 3 kata. Umati, Umati, Umati. Selamat Melayani Umat!

Eko Susanto
Penulis adalah Ketua Bidang Politik KAMMI Daerah Bogor

1 komentar:

  • THESALTASIN@gmail.com says:
    23 Oktober 2011 19:03

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ,


    أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ - بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    = AQIDAH ANTI MADZHAB =

    Pada Buku = RASIONALITAS AL-QUR’AN = Studi Kritis atas Tafsir Al-Manar ( yang membahas kesesatan para Dedemit WAHABI ) = karya – M.Quraish Shihab . MA. = di Halaman 74 nomor 3 menyatakan :

    “ Syaikh Abdul Ghani ar-Rafi , mengajarkannya ( kepada Rasyid Redha al-Mu'tazili ) sebagian dari kitab hadits NAIL al AUTHAR yang dikarang oleh : asy-Syaukani yang bermadzhab Syi’ah Zaidiyah “

    …Ulama Besar Syi’ah dijadikan MASCOT oleh para DEDENGKOT WAHABI…lucu…maksud hati ingin meluruskan AQIDAH ….akhirnya …berkolaborasi dengan Aqidah Syi'ah….Na’udzubillah tsumma Na’udzubillah.


    وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

    “Umat ini tidak akan bersepakat diatas Kesesatan.”

    (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

    http://thesaltasin.wordpress.com/2011/09/16/o/

Poskan Komentar

 

Popular Posts

Populer Bulan Ini

Populer Miinggu Ini