CATATAN AWAL KAMPUS NAYLA
6 Juli 2006Great!!!Hari ini aku mulai memasuki dunia baru, kampus. Statusku kini bukan lagi siswa ‘abu-abu’, tetapi sebagai genersi intelektual penerus bangsa yang sering mengumandangkan semboyan “Hidup mahasiswa!!”. Bangga tak terkira dengan jabatanku saat ini, mahasiswa. Tentu saja tantanganku tak semudah ketika aku duduk di bangku SMA, kehidupanku sekarang melaju cepat dan menguras otak menjadi sedemikian rupa. Berat.
But, you’ll know till you have tried (semboyan di buku tulis). Kuhempaskan keraguanku,
That’s all.13 Juli 2006Satu pekan duduk di kelas besar ini, belum cukup membuat berpuluh-puluh manusia heterogen ini saling mengenal. Tapi, pagi ini cukup membuat seluruh isi ruangan Fakultas Sastra ini terheran-heran. “
Ok class, let me introduce my self, I’m Febrina. I’m from International High School, South Jakarta. Pleasure to meet you all. Gue Cuma mau memperkenalkan diri, kalo disini ada
scribe alias master sastra dari sekolah internasional, yaitu gue. Jadi hari ini gue mau bentuk club sastra. Bagi yang mau ikutan bisa daftar lagsung ke gw, tapi jangan dianggap sepele karena akan ada wawancara supaya club ini memang khusus untuk orang –orang yang berkualitas.
Thanks”.
Aku menelan ludah, heran ternyata ada juga orang yang memvonis dirinya sebagai master??? Sesombong itukah makhluk Allah?? Gatal sekali tanganku sehingga yang terjadi yaitu kuacungkan tanganku ketika Febrina masih berada di depan kelas. “Maaf Feb, apa ada kesempatan bagi teman-teman yang ingin belajar sekiranya mengalami kesulitan dalam mata kuliah nanti tanpa harus memandang kualitasnya?”. Puasnya aku setelah pertanyaan itu terlontar dari bibirku, senyumku merebak, ingin tahu jawabannya.
“Kalo gitu, elo aja yang ngajarin! Orang-orang yang gak berkualitas gak cocok dalam club gue, sadar diri lah.”
Wajahku merah padam, bukan malu pada diriku, tapi malu mendengar jawabannya, jawaban yang katanya seorang master! Tidak terlihat sedikitpun peduli dengan mereka yang membutuhkan ilmunya. Sombong dan kikir...fikirku, tapi aku langsung membuang fikiran itu..tidak baik.
Aku berdiri, mengambil nafas, lalu berkata dengan jelas dan lantang, walau tidak keras. ”Kenapa seperti itu? Bukankah kita sama-sama mahasiswa yang butuh informasi. Bukan berarti orang-orang yang tidak setaraf dapat menjadikan kita bodoh bukan? Malah dengan seperti itu kita dapat membantu teman kita sekaligus memberikan kontribusi untuk negara. Maaf kalo perkataan saya kurang berkenan, tapi saya tidak ada maksud untuk menggurui”.
Hening sesaat. Tidak ada respon dari mulut siapa pun. Beberapa detik kemudian, seluruh isi ruangan bertepuk tangan dan ramai seketika menandakan setuju dengan perkataanku. Semakin terlihat dia tidak menyukaiku, memandang ke arahku dengan tatapan sinis. Entah apa dalam benaknya, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik.
15 Juli 2006”Nayla sok tahu!” Seseorang memanggilku dari belakang. Aku tertunduk dalam hati..dan menoleh. ”Febrina, ada apa?” dengan tenang aku berkata seolah tidak terjadi apa-apa.
”Tiga minggu lagi ada lomba pembuatan karya tulis ilmiah, gue mau tantang lo untuk ikutan. Jangan tolak tantangan gue, kecuali lo pengecut. Tapi kalo gue gak salah denger, lo termasuk
master of science di SMA lo, gue pengen tahu apa rumus-rumus lo bisa diapain buat bikin karya tulis ini, yang ada lo belajar tiga hari tiga malam buat mikir judulnya aja”.
Otak Limbic aku terbakar, obsesiku untuk membuat yang terbaik dalam kompetisi itu. Aku mengiyakannya dan tersenyum pahit. Pikiranku runyam..aku tidak terlalu mahir dalam menulis, bagaimana ini...
5 Agustus 2006Hari pengumuman lomba karya tulis ilmiah, entah apa yang terjadi pada diriku. Mual, grogi, mungkin wajahku pucat pasi. Tapi aku serahkan semuanya pada Allah, aku telah berusaha semampuku. Putaran waktu menunjukkan angka 9.15 Wib, tepat pengumuman itu. ”Pemenannua adalah....”, sungguh aku tak mampu berkata karena perkataan tersebut mengatakan Nayla Putri Setya Nissa menjadi pemenangnya, Aku. Sedangkan Febrina menjadi juara harapan satu.
Tak kusangka, Febrina datang ke arahku sembari memegang erat pundakku dan berkata ”Selamat ya..terima kasih telah memberikan apa arti potensi dari kompetensi”.
Bahagia. Satu kata yang terpati di hatiku, penghargaan yang tinggi dari sebuah catatan awal kampus Nayla..perjalanan hidupnya..
Erika HerryKetua BKM KAMMI Daerah BOGOR
0 komentar:
Poskan Komentar