Hujan Bermaksud

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron : 190-191)


Maha Suci Allah SWT atas semua kehendak-Nya. Keteraturan yang Dia ciptakan untuk kebaikan dan kebahagiaan makhluk-Nya sungguh tanpa cacat. Atmosfer yang berlapis, matahari yang bersinar dengan kesetiaannya, udara yang berhembus dengan semilirnya, rembulan yang tetap hadir di kegelapan malam, dan semua keajaiban regulasi dunia. Sungguh indah.


Lewat ayat pengantar yang dituliskan di atas, maka ada suatu pernyataan yang menjadi landasan logika hikmah kita di dalam mengidentifikasi semua keadaan ataupun kejadian. Bahwa apa yang Allah SWT ciptakan pasti jauh dari kesia-siaan. Ada manfaat, hikmah, tujuan, dan maksud Allah SWT di dalam setiap penciptaan. Tidak ada satupun yang hadir di dunia ini kemudian bernilai sia-sia. Termasuk air - yang di dalam bahasa kehidupan alam disimbolkan dengan hujan.


Air menjadi alat yang sangat vital di dalam kehidupan kita. Baik langsung maupun tidak. Namun, pada saat tertentu “nasib”-nya tidak terlalu baik. Misalnya, dalam musim penghujan. Air yang turun sebagai berkah kenikmatan dari Allah SWT justru disambut dengan cacian, hinaan, dan sesekali menjadi objek kekesalan.Banyak orang justru menggurutu, kesal, marah, sampai mengumpat jika hujan sampai mengganggu aktivitasnya. Sebagai akibatnya, banyak orang sering memiliki harapan agar hujan berhenti sesuai keinginannya.


Padahal hujan tidak turun dengan iseng. Tidak hadir tanpa maksud. Tidak datang karena siklus alam saja. Tidak turun karena keberatan awan mendung untuk menampung uap air lautan. Setidaknya Al Quran mencatat beberapa maksud Allah SWT di dalam proses terjadinya hujan. Simaklah firman-Nya pada surat Al Anfal di ayat ke 11 berikut ini:

"(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaithon dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu)"

Maka, dari ayat tersebut setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi hikmah turunnya hujan bagi orang-orang beriman.


Pertama, hujan hadir untuk mensucikan manusia. Sebagaimana kita sering menggunakan media air di dalam ritual thaharah, Allah SWT menurunkan hujan secara umum untuk membersihkan jasad dan jiwa manusia. Memberikan kesuburan bagi tetumbuhan, sumber air bagi sumur-sumur manusia, meringankan suhu bumi yang semakin tinggi, dan manfaat lain yang masih banyak untuk diambil hikmahnya.


Kedua, Allah SWT menghadirkan hujan untuk menghilangkan gangguan-gangguan syaithon di dalam kehidupan manusia. Sifat-sifat syaithoni yang berasal dari iblis. Dan iblis berasal dari unsur api. Dipadamkan dengan sejuknya air hujan. Dirindangkan dengan deburan air yang hadir membasahi tanah planet manusia. Sehingga hadir kembali nuansa keindahan di dalam alam kehidupan manusia. Ketiga, hujan Allah cetak untuk memberi kekuatan terhadap hati orang-orang beriman. Allah SWT ingin menegaskan (kepada orang-orang beriman) bahwa Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang terjadi dan hadir di dunia ini. Segala kenikmatan, rizqi, kebaikan, bahkan kemenangan hanya bisa hadir ketika Allah SWT merestuinya untuk hadir. Bukan karena usaha manusia untuk merekayasanya.


Dan yang terakhir, lewat hadirnya hujan, Allah SWT ingin meneguhkan hati para mu’minin. Setelah meyakini bahwa jalan Allah adalah jalan yang benar, orang-orang beriman diberikan suatu keyakinan dan keteguhan untuk terus melangkah di dalam jalur keimanan dan rasa berserah diri secara integral terhadap Allah SWT dan segala keputusan-Nya. Hingga keteguhan itu mampu (dengan izin Allah SWT) untuk melahirkan ketaqwaan dan suatu sikap yang dikenal sebagai furqaan. Yaitu kemampuan membedakan antara kebenaran Ilahiah dengan keburukan yang bersumber dari bisikan syaithon meski bertabur dengan gemerlap dunia. Wallahua’lam.

Ahmad Akbar

Siapa Tuhan Sebenarnya ?

Ketergantungan kita terhadap ideologi supranatural sepertinya sudah boleh dikatakan sebagai suatu fitrah. Betapa tidak, dunia dengan gempuran inovasi teknologi di satu sisi ternyata tetap tidak mempengaruhi laju pertumbuhan filsafat dan metafisika di dunia hingga hari ini. Konsekuensinya, lahirlah banyak varian di dalam dunia pemikiran. Beberapa menjadi “agama” baru bagi masyarakat, beberapa yang lain hilang begitu saja karena tidak mampu menjawab tantangan.

Termasuk ide tentang siapa Tuhan bagi seorang individu atau bagi sekelompok manusia. Sepertinya hal ini bisa dikategorikan menjadi abstrak. Bagaimana tidak, sifat-sifat yang harusnya manusia berikan dalam upaya apresiasi atas keluarbiasaan dan eksistensi Tuhan justru diberikan pada hal yang tidak menunjukkan kedua hal itu. Penghambaan, ketaatan, loyalitas, bahkan totalitas kehidupan seorang manusia bisa begitu mudah disodorkan pada suatu nilai, partai, ideologi, paham, atau tuhan-tuhan semu lainnya.

Cukup penting untuk kita mengevaluasi di dalam wilayah jiwa dan ideologi kita tentang siapa Tuhan kita yang sebenarnya. Karenanya juga sangat penting untuk mengetahui cara mengenal Tuhan. Ada pepatah arab yang menyatakan bahwa “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.” Dengan kata lain untuk mengetahui Tuhan kita yang sebenarnya, cukuplah kita bertanya pada diri sendiri.

Sekurang-kurangnya ada tiga poin yang bisa kita jadikan parameter atas kebertuhanan kita. Pertama, jika dengannya (atau dengan-Nya) kita bisa meraih ketenangan dalam hidup. Hal ini bisa kita sepakati karena sesuatu yang kita anggap Tuhan memiliki indikator bahwa dialah penjamin kehidupan yang sesungguhnya. Karenanya kita merasa tenang. Tidak khawatir, resah, gundah, apalagi gelisah dalam menghadapi kehidupan di sepetak planet mengapung ini.

Kedua, jika Tuhan kita jadikan tempat untuk berlindung dari segala hal. Kekuasaannya yang meliputi semua kehidupan membuat kita merasa aman dari segala hal yang kita anggap membahayakan. Kemahacerdasannya seakan membuat jaminan terhadap hati kita bahwa kita akan selalu baik-baik saja. Kita akan tetap aman jika kita berlindung padanya. Sebaliknya, kita tidak pernah aman ketika kita tidak berlindung padanya.

Fakta yang menjadi sintesi selalu melahirkan romantika sebagai bumbu pelengkapnya. Kita semua menganggap sesuatu itu Tuhan jika kita termasuk orang-orang yang mencintainya. Hanya saja, secara empiris, definisi mencintai akan berbeda untuk setiap orang. Sehingga mungkin yang lebih mudah untuk dijadikan parameter adalah bagaimana dominasi rasa cinta yang lebih kita kenal dengan istilah rindu. Ada suatu ikatan hati yang bisa dianggap atau dikatakan abstrak tentang kerinduan. Namun, ciri umum tentang rindu tentu saja bersifat global disepakati oleh manusia. Bahwa, ia adalah rasa kehangatan dan kegembiraan jika mendapati komunikasi dengan sesuatu yang dirindukan.

Setidaknya, dari beberapa variabel di atas, tentu sekarang kita bisa mengevaluasi dan menanyakan dengan sangat jujur, tentang siapa yang kita anggap sebagai Tuhan selama ini. Tentu dia bisa alat yang melambangkan ide kebendaan, atau mungkin suatu alam pemikiran yang kita anggap bisa memenuhi semua varian di atas, atau bahkan kita mendefinisikannya secara bebas (atau terlalu bebas) ide tentang siapa Tuhan yang sesungguhnya. Tapi, mungkin yang jauh lebih penting ditanyakan sekarang, dengan fakta, realita, dan pengaruh akses informasi, adalah “benarkah anda bertuhan pada Tuhan anda sekarang ini ?”

Ahmad Akbar
Bogor, 5 Januari 2012

“Termiskinkan”

Kemiskinan yang menjadi kebudayaan adalah pola pikir manusia. Dasar dari keinginan manusia yang tidak mampu memenuhi keinginannya merupakan bentuk baru dari pengerian kemiskinan. Sejak awal kemiskinana adalah ketidakmampuan menusia memenuhi kebutuhan, akan tetapi berangsur hal tersebut menjadi budaya yang terintervensi oleh nafsu atau keinginan yang melampaui batas tiap pribadi manusia. Dari hal tersebut maka tersimpulkanlah pengertian bahwa saat ini kemiskinan adalah keinginan yang tidak mampu terpenuhi.

Bangsa indonesia jika kita kembali menengok kebelakang memiliki catatan kebangkitan yang fluktuatif. Awal mula sejarah baru berkuasanya kerajaan majapahit; kemudian tertindas oleh imperialisme belanda, jepang, inggris, yang sebelumnya dimotori oleh kaum portugis. Bangkit kembali dengan perlawanan para pahlawan dan gerakan-gerakan rakyat. Kembali sejarah terulang dengan keinginan belanda menduduki tanah ini. Maka dengan ketegasan bangsa kita, kita kembali terbebas. Selepas perjuangan itu munculah pengkhianatan-pengkhianatan yang menjadi bibit-biit kehancuran sampai saat ini. Dan bangsa kita masih belum mampu berdiri tegak menghadapi hal tersebut. Ketidakmampuan ini menjadi dasar miskinnya bangsa kita. Hukum alampun terjadi, “yang kuat akan hidup, yang lemah akan mati”. Maka begitu banyak orang-orang yang mati. Mati yang memang mati dalam keadan terhinaan oleh bangsa sendiri. Mereka yang memiliki kekuatan menjadikan kekuasaannya sebagai “brankas” kehidupan mereka. Hasilnya termiskinkanlah rakyat kita.

Disaat bangsa ini memulai sebuah bentuk pengembalian kesadaran bangsa untuk bangkit. Ternyata budaya baru datang mengkerdilkan bangsa kita dengan kata “modernisasi” yang dibungkus kulit “westernisasi”, dan kembali menumbuhkan semangat-semangat imperialisme gaya baru yang biasa disebut dengan neoliberalisme. Bukan sebuh sudut pandang politik yang akan pribadi ambil, namun sebuah sudut pandang manusia yang memanusiakan. Ketiga hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang terlihat wajar dimata rakyat keci sekalipun. Budaya modernisasi dan westernisasi menjadi gengsi untuk mempertahankan eksistensi di dunia. Dalam sebuah buku yang berjudul the clash of civilization oleh Hutington, bahwa antara modernisasi dan westernisasi adalah hal yang terpisahkan. Hal ini menandakan penyerangan kebudayaan telah berasal dari segala arah. Modernisasi yang menjadikan segalanya adalah kebutuhan kita di era global dan westernisasi yang mengajarkan bahwa kiblat peradaban maju manusia kini adalah barat. Maka pola-pola kesederhanaan manusia yang telah terbangun dalam bangsa ita hilang terlunturan. Sehingga pengertian-pengertian baru itu muncul, tentang kemiskinan yang menjadi dasar ketidakpuasan keinginan, tentang alasan seseorang untuk malas berusaha, tentang tngkat gengsi manusia, tentang perbedaan status sosial manusia yang membuat bangsa ini terpecah tak bersatu untuk bangkit. Saat ini sudah tidak adalagi yang saling percaya maka marilah bentuk kepercayaan itu..

-Iqbal putera mahari-

“Hari ini sedang kuliah kesuburan tanah...”

Pahlawan Sejati

Badanmu yang ringkih

Membuatku tak percaya

Kondisi keluargamu yang sulit

Membuatku semakin tak percaya

Sunyi senyap semua bahasa kata

Tak melihat alam duniamu yang merana

Jangan beritahu siapa-siapa

Itu yang kau katakan padaku

Cahaya lentera yang ada padamu

Menyinari rimba dunia

Tak seperti lilin yang akan mati

Tapi seperti matahari

Menggapai ridho Illahi

Bukan ridho manusia atau benda mati

Aku bukan siapa-siapa

Bisiknya padaku suatu waktu

Kini kau telah pergi

Tapi jejakmu tetap disini

Terus menjadi pelangi

Sebagai jembatan langit dan bumi

Tak ada yang tau siapa dirimu

Dan seperti apa rupamu

Semoga kelak kita bertemu

Dalam satu waktu

Kembali menuai rindu

Bercengkerama dalam kasih

Untuk mengobati luka lalu

Juga janji yang belum kau dapati

Cilandak, 9 November 2011

Eko Wardaya


Menanti Orde Pahlawan di Indonesia

Gelombang besar tidak akan muncul sebelum muncul gelombang-gelombang kecil. Begitupun gerak langkah kepahlawanan, tidak akan begitu saja muncul tanpa ada gerakan-gerakan penyulut untuk bangkit, melawan, dan menunjukkan sosok pahlawan. Pahlawan adalah gelar yang disematkan kepada orang-orang hebat, gigih berjuang, dan rela berkorban demi kepentingan umat, bukan diri sendiri.


Sekilas Kondisi politik dan ekonomi global

Tahun 2011 menjadi tahun bersejarah bagi kawasan Timur Tengah, mengapa tidak, berbagai momen perubahan hadir menyeruak ditengah kesengsaraan rakyat khususnya di Negara yang mempunyai mayoritas rakyat beragama Islam. Berawal dari Tanggal 17 Desember 2010, di depan kantor Gubernur Sidi Bouzidm Tunisia, Muhamed Bouazizi melakukan aksi mengejutkan yaitu membakar dirinya. Tindakan ini dipicu oleh kekesalan Bouazizi atas pengaduan yang tidak direspons. Pagi harinya, barang dagangannya disita aparat kepolisian setempat, bahkan sampai dihina. Efek pembakaran dirinya berujung maut. Kejadian ini menyebabkan kemarahan warga Tunisia yang diekspresikan melalui tindak kekerasan. Bahkan kemudian menambah tuntutan pendemo agar Presiden Zine El Abidine Ben Ali turun dari kursi kepresidenan. Revolusi Tunisia memiliki efek berantai menjalar ke beberapa negara di Timur Tengah. Revolusi di Mesir, Aljazair, Bahrain, Yaman, dan Libya. Semua perjuangan revolusi tersebut menuntut hal yang sama, turunnya rezim yang telah lama berkuasa. Serta memiliki latar belakang yang sama, Demokrasi, HAM, kebebasan berpolitik dan bernegara terasa nihil di Negara mereka dengan adanya para pemimpin rezim yang telah uzur. Mereka menuntut adanya perbaikan, kemiskinan, masalah ekonomi, rendahnya upah juga korupsi menjadi api penyulut sehingga rakyat tak perlu berpikir lagi untuk melancarkan aksi revolusi penggulingan pemerintahan.

Di lain belahan dunia sedang terjadi krisis ekonomi global yang menghantam Eropa dan Amerika. Penurunan peringkat kredit Amerika yang dilansir Standard & Poor’s membuktikan ketidakstabilan fiskal di Amerika. Eropa tak kalah hebohnya, Yunani adalah Negara pertama yang terkena dampak krisis tersebut, aksi massa pun tak terelakkan di Yunani dan juga merambat ke Negara lainnya, sampai aksi massa terparah di Inggris berbentuk kekerasan dan penjarahan. Kondisi teranyar adalah demo anti wall street dan berefek pada ketidakpercayaan warga Amerika pada Bank Konvensional. Banyak nasabah yang memindahkan uang mereka ke koperasi-koperasi yang ada.

Jelas tersimpulkan bahwa dunia sedang mengalami goncangan dahsyat berupa krisis dalam berbagai aspek yang berimplikasi pada ketidaksejahteraan rakyat.


Munculnya Gelombang Kepahlawanan

Seperti yang saya sebutkan dimuka bahwa pahlawan tidak akan muncul begitu saja. Dan kondisi global yang terjadi sedang dan akan memunculkan pahlawan yang dinanti. Kondisi baru-baru ini Partai Islam moderat di Tunisia, Ennahda memenangi pemilu demokratis pertama di Negara tersebut, bahkan sebelumnya Partai AKP Turki pada bulan Juni memenagi Pemilu untuk ketiga kalinya berturut-turut semenjak pemilu pada tahun 2002. Besar kemungkinan Ikhwanul Muslimin akan memenangi pemilu mendatang di Mesir.

Semakin nampak gerak kepahlawanan di masing-masing Negara, tinggal kita rinci saja siapa tokoh-tokoh tersebut.Bila pemuda dan rakyat dianggap memelopori revolusi Timue Tengah juga aksi massa Eropa serta Amerika, Turki mempunyai triumvirat yang membuat mereka bangkit, Abdullah Gun, Erdogan, dan Ali Babacan. Bagaimana Indonesia?


Krisis Multidimensi Sejak Dulu

Jika membicarakan Indonesia, khalayak sudah sangat mengetahui bagaimana kondisi kita pasca reformasi, namun ditengah situasi global yang dijelaskan di muka, berdasarkan statistik pemerintah Indonesia berada pada titik stabil ekonomi, artinya tak terpengaruh krisis ekonomi global yang ada. Namun di tengah stabilitas ekonomi yang ada, tidak sesuai dengan kondisi realita masyarakat bawah, masih saja terpuruk. Ditambah bobroknya penegakan hukum yang terjadi, tingginya angka kriminalitas, maraknya isu SARA yang memunculkan konflik, sampai kasus PAPUA, dan masih banyak lagi. Apa negeri ini dikatakan lebih baik dari negara-negara yang sedang dilanda krisis ekonomi maupun politik. Tentu saja tidak, tetapi sampai kapan kah kondisi ini mereda. Gelombang kepahlawanan yang muncul di pentas global secara tidak langsung akan menyentuh seluruh kawasan di dunia terutama Indonesia. Paling tidak hal itu menjadi harapan akan munculnya Pahlawan Indonesia. Karena sesuatu yang semakin lama tersudut akan menimbulakan kejengahan yang akhirnya meluapkan segala yang ia miliki untuk bisa keluar dari ketersudutan yang ada, bangkit melawan. Akan seperti apa, apakah mengulang masa revousi ’66 atau reformasi ’98.


Orde Pahlawan, sebuah harapan

Merujuk pada ramalan jawa kuno, Indonesia akan segera mendapatkan pahlawan, SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU yaitu tokoh pemimpin yang amat sangat religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Yang Maha Kuasa. Dengan selalu bersandar hanya kepada Yang Maha Kuasa, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati. Tokoh ini akan muncul setelah 6 kepemimpinan yang juga digariskan dalam ramalan tersebut. Bukan berarti kita mempercayai hal ini secara mutlak, tetapi hanya sebagai angin harapan akan hadirnya Orde Pahlawan di Indonesia. Ditambah lagi kebangkitan tenyata terjadi di Negara yang mayoritas rakyatnya beragama Islam semakin menguatkan angin harapan di Negara kita. Al Qur’an berbicara mengenai manusia terbaik alias pahlawan dalam surat Ali Imran :79,

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata, “Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata), “Hendaklah kalian menjadi orang-orang Rabbanu, karena kalian selalu mengajarkan Al Kitabdan disebabkan kalian tetap mempelajarinya.”

Imam Al Qurtubi menjelaskan tentang kandungan ayat ini, “Hendaklah kalian menjadi orang-oarang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah swt.

Karena gelombang kepahlawanan di berbagai belahan dunia telah menunjukkan sosok pahlawan mereka-bagai gelombang kecil- dan tinggal menanti gelombang besar setelahnya yang menandai kelahiran Orde Pahlawan. Wallahu a’lam bishawab


Bogor, 9 November 2011

Eko Wardaya

Memaknai Pahlawan dan Hari Pahlawan di Era Milenium

Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November identik dengan acara-acara simbolik mengenang pertempuran di Surabaya yang dimotori oleh para kiayi seperti KH Hasyim Asy’ari dan tokoh muda yang bernama Bung Tomo. Kejadian tersebut menjadi bom semangat bagi rakyat Indonesia di kota lainnya untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah, pembakaran Kota Bandung adalah salah satu buah dari ledakkan bom semangat arek-arek Surabaya.
Berdasarkan sejarah, penentuan Hari Pahlawan berasal dari usul seorang Pimpinan PRI Surabaya, ia adalah Sumarsono. Presiden Soekarno kala itu menerima usulan tersebut dengan pandangan latar belakang makna Hari Pahlawan yang dihubungkan dengan revolusi bangga. Sampai saat ini hal itu yang tertanam di benak masyarakat Indonesia.
Sejak SD kita diceritakan mengenai sejarah Hari Pahlawan dikemas dalam kisah perlawanan, tak lupa foto bung Tomo yang sampai saat ini terpajang dalam buku-buku IPS atau sejarah. Alhasil dalam benak masyarakat kebanyakan yang dinamakan Pahlawan adalah mereka yang berjuang di medan pertempuran melawan penjajah baik gugur maupun tidak. Padahal gelar pahlawan nasional tidak hanya disematkan pada mereka yang saya sebutkan diatas saja, ada Ismail Marzuki dalm bidang Sastra, juga Tirto Adhi Soerjo dalam bidang pers. Toh masyarakat sudah terlanjur mendefinisikan pahlawan sesuai cerita yang mereka tangkap di sekolah.
Pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya. Zaman millennium dimana sudah berakhir yang dinamakan penjajahan fisik membuka peluang anak-anak bangsa untuk terjun di pentas global di berbagai bidang; olahraga, seni, sains, dan lainnya. Tentu untuk berprestasi dan mengharumkan nama bangsa. Dan terbukti sudah banyak prestasi Indonesia yang ditorehkan di bidang Sains, beberapa tahun kebelakang siswa-siswi Indonesia memenangkan olimpiade Fisika di tingkat Asia dan Internasional. Itu salah satunya, belum lagi ada seorang anak SMP-Arrival Dwi Sentosa yang bisa membuat antivirus yang dinamakan ARTAV pada tahun 2011, dan banyak lagi presatasi di berbagai bidang lain.
Apakah mereka bukan pahlawan? padahal mereka mengharumkan nama bangsa di mata dunia, membuat produk orisinil Indonesia dan bermanfaat bagi khalayak serta sesuai dengan definisi yang ada mengenai pahlawan. Walaupun belum mendapat gelar simbolik sebagai Pahlawan Nasional.
Hal ini perlu mendapat perhatian besar bagi pemerintah dan kita semua, dimana era millennium pemaknaan Pahlawan dan Hari Pahlawan harus sudah digeser tanpa menafikkan sejarah 10 November, untuk memperkenalkan pahlawan-pahlawan baru Indonesia, untuk tak terjebak dalam masa lalu saja. Bung Karno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”
Karena setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda, maka di setiap zaman pasti mempunyai pahlawan tersendiri.

Bogor, 8 November 2011
Eko Wardaya
 

Popular Posts

Populer Bulan Ini

Populer Miinggu Ini